
Syifa’ Salsabila Kuncahyo (dua kanan) dan ibundanya, Maria Ulfa (kanan) saat berfoto seusai Wisuda Akbar Al Quran 30 Juz dan Tahfiz.
Surabaya – Wisuda Akbar Al Quran 30 Juz dan Tahfiz yang diselenggarakan Lajnah Pengembangan Pembelajaran Al Qur’an (LPPA) Ta`miriyah Surabaya menyisakan kisah yang layak menjadi motivasi orang tua.
Kisah tersebut diungkapkan Maria Ulfa, ibunda salah seorang wisudawan bernama Syifa’ Salsabila Kuncahyo, klas VIII SMP Ta’miriyah.
Kisah inspiratif ini disampaikan saat Maria Ulfa didapuk sambutan mewakili wali murid di acara wisuda, Minggu (7/6/2026).
“Jujur saya sampaikan, anak saya gak pernah ngaji, gak bisa ngaji, apalagi mengenal Bahasa Arab,” kata Maria Ulfa mengawali ceritanya.
Sebagai ibu yang bekerja di luar kota (Banyuwangi), waktu untuk anaknya sangatlah terbatas, hanya ada kesempatan bertemu pada akhir pekan saja.
Dia mengaku kurang memperhatikan pendidikan agama untuk anak-anaknya, termasuk mengaji. Yang diutamakan adalah nilai akademik yang ditempuh di sebuah SD negeri di daerah Rangkah hingga kelas VI.
Karena saling berjauhan, Syifa dan adiknya, Muhammad Matalino Messi Kuncahyo hanya ditemani seorang Asisten Rumah Tangga (ART). Papanya, Dodon Kuncahyo, juga sibuk dengan pekerjaannya sehingga waktunya nyaris tidak ada untuk anaknya.
“Semua dipasrahkan yang momong. Sebenarnya ada TPQ (Taman Pendidikan Quran) di dekat rumah, tapi belajarnya malam. Gak ada yang ngawasi,” terangnya. Kisah seperti itu berlangsung hingga Syifa lulus SD dan hendak masuk SMP.
Awal Titik Balik
Suatu waktu ketika Maria Ulfa pulang ke rumah dan bertemu anak-anaknya. Dia bertanya apakah anak-anaknya salat? Dijawab salat tetapi tidak tahu bacaannya. “Saya mulai gelisah dengan keadaan anak anak saya. Apa mau terus terusan seperti ini,” tanyanya.
Maria Ulfa iseng iseng mencari informasi sekolah Islam dengan searching internet. Muncullah Instagram Ta’miriyah di posisi paling atas. Kebetulan di situ ada info pendaftaran murid baru (PPDB).
Dari informasi tersebut akhirnya dapat berkomunikasi dengan Kepala Sekolah waktu itu. Dia disarankan untuk datang ke sekolah.
Setelah mendapat banyak informasi mengenai sekolah ini, akhirnya Syifa resmi menjadi siswi SMP Ta’miriyah pada 2024.
Waktu terus berjalan hingga Syifa menjalani hari-harinya di sekolah bersama teman-temannya. Maria Ulfa gak begitu yakin dengan kemampuan anaknya. Bahkan sempat ada niat untuk pindah ke sekolah lain karena takut gak bisa mengikuti dan takut di-bully.
Namun, tawarannya ditolak mentah mentah oleh Syifa dan dia tetap ingin melanjutkan belajar mengaji di Ta’miriyah yang kebetulan ada LPPA-nya.
Di situlah Syifa dibimbing Ustadzah Balqis yang kaget karena anak seusia SMP gak bisa membaca Quran dan mengaji. Berkat ketekunan Balqis, sedikit demi sedikit Syifa mulai bisa baca Quran. Setiap ada perkembangan diinfokan ke Maria Ulfa.
Perhatian ustadzah seperti ini memberi kesan yang luar biasa bagi wali murid. Ini yang mendapat pujian dan apresiasi dari Maria Ulfa. “Se-care (peduli) itu ustadzah di Ta’miriyah,” ucap Maria memberi pujian.
Suatu ketika, Syifa membawa kejutan yang luar biasa untuk papa dan mamanya. Dia mengatakan jika sudah bisa menghafal surat surat pendek, yaitu surat Al Nashr, surat Al Bayyina dan surat Al Kafirun.
“Tentu saya tidak percaya. Anak saya benar benar nol tidak bisa mengaji sama sekali. Tiba-tiba dia bilang sudah hafal empat surat,” ungkapnya.
Secara random, dia minta mamanya untuk mengujinya. Dan ternyata benar, Syifa bisa menghafal dengan lancar surat-surat yang ditunjukkan tersebut.
“Air mat air mata ini langsung menetes, tak lagi menetes, tapi menangis karena haru. Apa benar anak saya bisa mengaji. Alhamdulillah, Ya Allah,” ucapnya.
Adiknya Juga Masuk Ta’miriyah
Tak ada lagi keraguan pada Maria Ulfa. Kemampuan mengaji Syifa menjadi bukti betapa hebatnya Ta’miriyah. Anak yang semula nol tak bisa mengaji, dalam waktu dua tahun sudah mengkhatamkan Al Quran.
Adik Syifa yang bernama Muhammad Matalino Messi Kuncahyo, juga dimasukkan ke SD Ta’miriyah. Dia masuk klas IV premium. Sebelumnya, selama tiga tahun Matalino menempuh pendidikan di salah satu SD negeri di Rangkah.
“Saya sudah menemukan sekolah yang cocok buat anak anak saya. Saya seperti telah dipertemukan oleh Allah,” ungkap Maria Ulfa.
Dia heran sekaligus berterima kasih dengan perhatian dan kepedulian ustadzah ustadzah Ta’miriyah yang tak pernah lelah membimbing siswa siswinya. Termasuk kedua anak Maria Ulfa yang setiap perkembangannya disampaikan.
“Anak saya yang satu ini juga demikian. Dia dibimbing oleh Ustadzah Ima. Telaten memberi kabar melalui WA, bahkan saat anak saya mengaji dikirim videonya. Sampai sebegitunya. Terima kasih para ustadzah,” imbuhnya.(rul)
Tinggalkan Komentar