Info Sekolah
Kamis, 16 Jul 2026
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
11 Juni 2026

Menjaga Keluarga dari Lingkungan Buruk

Kam, 11 Juni 2026 Dibaca 19x

KH Luthfi Basori memberikan ceramah agama pada Wisuda Akbar Al Quran 30 Juz dan Tahfiz yang diselenggarakan Taman Pendidikan Ta’miriyah

Seorang anak yang pandai membaca Al Quran, menyebabkan kedua orangtuanya mendapatkan keberkahan. Orangtua di akherat kelak akan mendapatkan mahkota.

“Mudah mudahan kita termasuk dari orangtua tersebut dan diberi mahkota oleh Allah SWT. Allahumma aamiin,” kata KH Luthfi Basori dalam ceramahnya di acara Wisuda Akbar Al Quran 30 Juz dan Tahfiz yang diselenggarakan Taman Pendidikan Ta’miriyah, baru-baru ini.

Ketika anak-anak pandai membaca Al-Qur’an, orang tuanya diberi mahkota, tentu mereka akan mendapatkan derajat tinggi di hadapan Allah. Anak dapat, orang tua dapat, apalagi para gurunya.

Guru-guru Al-Qur’an sekaligus  pengurus dan panitia-panitia yang mendukung kegiatan belajar Al-Qur’an itu tentu juga tidak kalah menariknya.

“Mudah-mudahan kita semua sama-sama diberi derajat yang tinggi di sisi Allah Subhanahu wa taala. Allahuma aamiian. Allahuma aamiin. Allahuma aamiin”.

Orang tua bangga anaknya menghafalkan Al-Qur’an. Apalagi kalau melihat rapor anaknya, orangtua juga menjadi bangga dan senang. Orangtua dan guru pasti merasakan kebahagiaan tersendiri.

Tapi, anak-anak yang masih kecil-kecil belum merasakan itu, belum bisa merasakan bagaimana bahagianya orang-orangtua yang merawat, mengajari, mengantarkan, menyekolahkan mereka di tempat belajar yang menjadikan anak-anak seperti ini.

“Mereka belum tahu, belum bisa merasakan. Paling-paling mereka hanya melihat nilai rapor, aku dapat nilai 9, aku nilai 10, aku dapat nilai berapa? Dan seterusnya. Senang mereka. Apalagi kalau kita sebagai orang tua memberikan apresiasi berupa hadiah materi atau umroh misalnya. misalnya ya, macam-macam hadiah kenaikan itu macam-macam. Tapi mereka belum tahu hakikatnya apa”.

Mereka hanya merasakan diajak pergi saja, kenapa? Karena usia mereka belum cukup umur untuk berpikir secara matang. Sebaliknya, orangtua, guru dan pengurus di Ta’miriyah inilah yang mempunyai beban. Kenapa beban? Karena sebentar lagi anak-anak tumbuh dewasa dan bermasyarakat.

Nabi Muhammad SAW bersabda: sesungguhnya seseorang itu mengikuti pemikiran, perilaku, adab, tata pergaulan dengan kawan-kawannya. Maka hendaklah setiap orang melihat siapa kawan hidupnya. Kawan hidup bukan berarti suami istri, bukan lingkungan.

Orang tua sepatutnya berterima kasih kepada guru-guru, ustadz-ustadz, ustadzah-ustadzah yang telah mengajari anak-anak bisa mendapatkan prestasi luar biasa. Namun para guru di sekolahan, di yayasan waktunya sangat terbatas.

Bagaimana kelanjutan anak-anak ketika dewasa? Apakah pergaulannya benar atau tidak, tergantung bagaimana mendampingi mereka sampai betul-betul menjadi orang dewasa, berumah tangga, menjadi seorang bapak atau menjadi seorang ibu. Semua menjadi kewajiban orangtua.

Salah satu contoh realtias di masyarakat, ada seorang gadis yang tubuhnya ditato. Teman prianya juga ditato dan telinganya ditindik. Kenapa gadis tadi tak ingin menjadi Muslimah yang baik.

Rupanya, gadis tadi mengaku pernah mondok, pernah jadi santri. Dia bisa qiroah. Tapi dia lama-lama bosan dan memutuskan keluar pondok. Di luar pondok ternyata dia ditampung oleh kelompok anak anak jalanan ini.

Cerita di atas menjadi pengingat bagi para orang tua, ternyata ada anak yang dididik dengan Al Quran di pesantren, namun setelah keluar tidak tahu apa yang terjadi. Apakah anak-anak kita ini masih bisa berprestasi sampai tua.

Kisah yang terjadi pada gadis di atas bukan salah kedua orang tuanya, apalagi gurunya. Ada kemungkinan sewaktu gadis tadi keluar dari pesantren ternyata ayah dan ibunya wafat. Sudah wafat di rumah enggak ada pegangan.

“Akhirnya anak tersebut bergaul bebas tidak ada yang mengarahkan. Akhirnya salah pergaulan. Ini gambaran di masyarakat. Karena itu kita sebagai orang tua selagi kita masih mampu ini ya sebagai guru juga selagi masih mampu kita harus mencetak generasi yang benar-benar setelah dididik Al-Qur’an itu menjadi generasi yang saleh dan salihah ila yaumil kiamah sampai akhir hayatnya,” urainya.

Mendidik anak bukan cuman setengah-setengah. Bukan hanya mengajar, mendidik selesai wisuda. Namun orangtua harus proaktif dan memantau terus perkembangan anaknya, jangan sampai salah pergaulan. Selagi masih bisa mendampingi, arahkan mereka ke jalan yang benar.

Tapi zaman sekarang pergaulan itu bukan sekedar pergaulan di masyarakat. Orangtua harus pandai mencarikan anak-anaknya pembimbing, ulama yang benar.

Karena itu, orangtua dan para guru harus totalitas mengantarkan anak-anak jangan sampai salah jalur, jangan sampai salah pergaulan, jangan sampai anak anak ingkar terhadap ayat-ayat suci Al-Qur’an.

“Sebaliknya bagaimana kita mengantarkan di mana ada tempat pengajian, mempelajari, mengkaji ilmu-ilmu agama. Hendaklah anak-anak kita itu dicintakan ke majelis-majelis tersebut, dicintakan kepada pengajian-pengajian mengajarkan perilaku akidah syariat yang benar dengan harapan mudah-mudahan anak-anak kita sampai meninggal dunia,” imbuhnya.

Ketika orangtua meninggal dunia, tapi anaknya masih membaca ayat ayat suci Al-Qur’an, mempelajari agama dengan benar, mengamalkan ibadah dengan benar, maka orangtua bisa menikmati kebaikan dari kesalehan anak-anak tatkala berada di alam barzakh.

Nah, tatkala anak-anak kita yang dipanggil oleh Allah Subhanahu wa taala, maka mereka bisa bertemu kita di alam barzakh dalam keadaan akidahnya selamat, kumpul lagi dengan ayah dan ibunya, akhirnya mendapatkan kebahagiaan kehidupan akhirat.

“Mudah-mudahan bisa nanti kelak bersama dengan baginda Nabi Muhammad sallallahu alaihi wasallam. Jadi untuk yang terakhir saya sampaikan, mari kita dampingi anak-anak kita sejak sekarang sampai seterusnya”.

Jangan dilepaskan begitu saja. Kita boleh bangga dengan prestasi anak kita yang juara satu, yang juara apa du dan seterusnya. Juara favorit semuanya. Atau juga yang nilainya bagus kita bangga dengan mereka. Tapi kebanggaan kita jangan sampai lalai sebagai orang tua, sebagai guru dan juga sebagai pengurus. Kita dampingi mereka sampai kapanpun.(rul/*)

KH. Luthfi Bashori merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kemayoran Surabaya; Pengasuh Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) dan Pesantren Ribath Al-Murtadla Al-Islami Singosari Malang.

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar