Info Sekolah
Kamis, 16 Jul 2026
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
23 Juni 2026

Hari Tasu’a dan Hari Asyuro’

Sel, 23 Juni 2026 Dibaca 12x

“Tanggal 1 Muharram 1448 H bertepatan dengan hari Rabu 17 Juni 2026, sesuai dengan hasil rukyatul hilal yang dilakukan oleh PBNU sebagaimana diumumkan oleh Lembaga Falakiyah PBNU pada 15 Juni 2026,” kata KH. Ahmad Faiz Basori, SE.Ak.MM. yang lebih akrab dengan panggilan Gus Faiz, memulai penjelasannya tentang hari Tasu’a dan Asyuro’.

Gus Faiz menjelaskan, hari Tasu’a (tanggal 9 Muharram) insyaallah bertepatan dengan Kamis 25 Juni 2026, dan hari Asyuro’ (tanggal 10 Muharram) bertepatan dengan Jumat 26 Juni 2026. Umat Islam disunnahkan untuk berpuasa pada hari Tasu’a dan hari Asyuro’.

Dan sebenarnya puasa pada Muharram adalah paling bagusnya puasa setelah Ramadhan. Oleh karena itu disunnahkan memperbanyak puasa di dalam bulan Muharram.

Hal ini sebagaimana diterangkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda yang artinya: “Sebaik-baik puasa setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim).

Imam Ghozali menyebutkan dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin, hadis dari Nabi Muhammad ﷺ : “Siapa yang puasa 3 hari (hari Kamis, Jumat, Sabtu) di bulan Muharram, maka Allah SWT menulis bagaikan orang yang beribadah 700 tahun.”

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah mengatakan dalam kitab Lathaa-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab: “Pada bulan-bulan haram, aku sangat senang berpuasa di dalamnya.”. Para salaf di kota Tarim Hadramaut Yaman sangat menjaga dan menghimbau memperbanyak puasa di bulan Muharram terutama pada hari pertama, hari kesembilan (Tasu’a) dan kesepuluh (Asyuro’).

Puasa Hari Tasu’a (9 Muharram).

Disunnahkan puasa pada hari Tasu’a (tanggal 9 Muharram), berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas ra, Nabi Muhammad ﷺ bersabda yang artinya: “Jika saya masih hidup tahun depan, niscaya saya akan puasa hari sembilan bulan Muharram” (HR Muslim). Akan tetapi Nabi Muhammad ﷺ wafat sebelum tanggal tersebut. Hikmah puasa pada hari Tasu’a tersebut adalah supaya berbeda dengan kebiasaan kaum Yahudi.

Puasa Tasu’a pada tahun ini insyaallah bertepatan dengan hari Kamis 25 Juni 2026. Niat puasa Tasu’a yang dibaca pada malam harinya sebelum tidur atau sampai sebelum terbit fajar adalah sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ تَاسُوْعَاءَ سُنَّةً لِله تَعَالَى

(Nawaitu shouma Tasu’a sunnatan lillahi ta’ala)

Artinya: “Aku berniat puasa Tasu’a, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Puasa Asyuro’ (10 Muharram)

Hari Asyuro’ tanggal 10 Muharram merupakan hari yang sangat dijaga keutamaannya oleh Rasulullah ﷺ . Salah satu bentuk menjaga keutamaan hari Asyuro’ adalah dengan berpuasa pada hari tersebut, sebagaimana hadis dari Ibnu ‘Abbas r.a., beliau mengatakan:

 “Aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ begitu menjaga keutamaan satu hari di atas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (yaitu hari Asyuro’) dan bulan yang ini (yaitu bulan Ramadhan).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Puasa Asyuro’ pada tahun ini insyaallah bertepatan dengan hari Jumat 26 Juni 2026. Niat puasa Asyuro’ yang dibaca pada malam harinya sebelum tidur atau sampai sebelum terbit fajar adalah sebagai berikut :

نَوَيْتُ صَوْمَ عَاشُورَاءَ سُنَّةً لِله تَعَالَى

(Nawaitu shouma Asyuro’ sunnatan lillahi ta’ala)

Artinya: “Aku berniat puasa Asyuro’, sunnah karena Allah Ta’ala.”

Puasa sunnah Asyuro’ dilakukan oleh Nabi Muhammad ﷺ ketika beliau hijrah ke Madinah. Dari Ibnu ‘Abbas r.a., beliau mengatakan: Ketika Nabi ﷺ sampai di Madinah, sementara orang-orang Yahudi berpuasa Asyuro’, mereka mengatakan, “Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun.” Kemudian Nabi ﷺ bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang Yahudi), karena itu berpuasalah” (HR. Bukhari)

Rasulullah ﷺ menyebutkan pahala bagi orang yang melaksanakan puasa sunnah Asyuro’, sebagaimana riwayat dari Abu Musa Al Asy’ari r.a., beliau mengatakan: Nabi ﷺ ditanya tentang puasa Asyuro’. Kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyuro’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat” (HR. Muslim).

Dianjurkan agar orang yang berpuasa pada hari Asyuro’ juga agar berpuasa pada tanggal 9 Muharram (hari Tasu’a). Jika dia tidak bisa berpuasa Tasu’a maka agar berpuasa pada tanggal 11 Muharram-nya, karena ada hadis mengenai hal itu (Kitab Fathul Muin). Tetapi dalam kitab Al-Um disebutkan: Tidak apa-apa jika melakukannya (berpuasa) hanya pada tanggal 10 Muharram saja.

Meluaskan Belanja/Nafkah pada Hari Asyuro’

Pada hari Asyuro’ tersebut disamping disunnahkan berpuasa, juga dianjurkan meluaskan pemberian/belanja kepada keluarga. Sebagaimana At-Thabarani dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abu Said r.a.:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِي سَنَتِهِ كُلِّهَا

Artinya: “Barangsiapa yang meluaskan belanja/pemberiannya kepada anak keluarganya pada hari Asyuro’ (10 Muharram), maka Allah akan meluaskan rizkinya sepanjang tahun itu”. (HR Tabrani & Baihaqi).

Berdoa pada Malam Asyuro’

Pada malam Asyuro’ (bertepatan dengan Kamis malam/malam Jumat, 25 Juni 2026) dianjurkan:

  1. Membaca Surat al-Ikhlas 1.000 kali. Fadhilahnya adalah Allah akan selalu memandangnya. Dan barangsiapa yang dipandang oleh Allah (dirahmati Allah) maka tidak akan disiksa.
  2. Juga dianjurkan membaca kalimat di bawah ini 70 kali.

 حَسْبُناَ اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

(Hasbunalloh wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir).

Fadhilahnya akan dijauhkan dari bencana di tahun itu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ajhuri: “Barangsiapa pada hari Asyuro membaca Hasbunallahu wa ni’mal wakiil ni’mal maulaa wa ni’man nashiir sebanyak 70 kali, maka Allah Ta’ala akan menjaga kejelekan tahun itu darinya” (I’anah hal 267 juz 2).

  • Dianjurkan membaca doa Asyuro’ sebagai berikut :

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ، اللهُمَّ يَا مُفَرِّجَ كُلِّ كَرْبٍ وَيَا مُخْرِجَ ذِي النُّونِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا جَامِعَ شَمْلِ يَعْقُوبَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا غَافِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا كَاشِفَ ضُرِّ أَيُّوبَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا سَامِعَ دَعْوَةِ مُوسَى وَهَارُونَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ، وَيَا خَالِقَ رُوحِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، وَيَا رَحْمَنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاَطِلْ عُمْرِي فِي طَاعَتِكَ وَمَحَبَّتِكَ وَرِضَاكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَاحْيِنِيْ حَيَاةً طَيِّبَةً وَتَوَفَّنِي عَلَى الْإِسْلَامِ وَالإِيْمَانِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya : Ya Allah, wahai Tuhan yang melapangkan semua kesempitan. Wahai Tuhan yang mengeluarkan nabi Yunus pada hari Asyuro’. Wahai Tuhan yang mengumpulkan tercerainya keluarga nabi Ya’kub pada hari Asyuro’. Wahai Tuhan yang mengampuni dosa nabi Dawud pada hari Asyuro’. Wahai Tuhan yang menghilangkan kesusahan nabi Ayyub pada hari Asyuro’. Wahai Tuhan yang mendengarkan doa nabi Musa & nabi Harun pada hari Asyuro’. Wahai Tuhan yang menciptakan ruh nabi Muhammad SAW pada hari Asyuro’. Wahai Wahai Tuhan yang Maha Pemurah di dunia dan akhirat. Panjangkan umurku untuk taat kepadaMu, cinta dan ridlo kepadaMu. Wahai Tuhan sebaik-baik penyayang dari para penyayang. Hidupkanlah aku dalam kehidupan yang baik. Matikan aku dalam keadaan islam & iman. Wahai Tuhan sebaik-baik Penyayang dari para penyayang. Wasolallohu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘alaa alihi washohbihi wasallam. Walhamdu lillahi robbil alamiiin.

Penutup

Hari berganti hari dan bulan pun silih berganti. Tidak terasa pergantian tahun sudah kita jumpai lagi. Semakin bertambahnya waktu, maka semakin bertambah pula usia kita. Per lu kita sadari, bertambahnya usia akan mendekatkan kita dengan kematian dan alam akhirat. Sebuah pertanyaan besar: “Semakin bertambah usia kita, apakah amal kita bertambah atau malah dosakah yang bertambah ?” Pertanyaan ini hendaknya kita jadikan alat untuk muhasabah atau introspeksi diri kita masing-masing. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan: “Tiada yang pernah kusesali selain keadaan ketika matahari tenggelam, masa hidupku berkurang, namun amal shalihku tidak bertambah.”

Sudahkah kita mempersiapkan bekal untuk menuju perjalanan yang panjang di akhirat kelak dengan amalan-amalan shalih? Sudahkah kita siap mempertanggung jawabkan semua perbuatan yang kita di hadapan Allah kelak? Allah Ta’ala berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ ﴿١٨﴾

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Alhasyr:18)

Ibnu Katsir ra berkata tentang tafsir ayat ini: “Yaitu, hendaklah kalian menghitung-hitung diri kalian sebelum kalian dihisab (pada hari kiamat)…… dan perhatikanlah apa yang telah kalian persiapkan berupa amal kebaikan sebagai bekal kembali dan menghadap kepada Tuhan kalian.”

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik untuk tetap teguh berada di atas jalan kebenaran-Nya, bersegera untuk melakukan instrospeksi diri sebelum datang hari di-hisab-nya semua amalan, dan menjauhkan dari perbuatan maksiat yang bisa membuat noda hitam di hati kita. Wallahu a’lam.

Catatan tambahan : Sebagian umat Islam Indonesia mungkin akan menjalankan puasa hari Tasu’a pada Rabu 24 Juni 2026 dan puasa hari Asyuro’ pada Kamis 25 Juni 2026, karena mengikuti metode hisab dalam penentuan awal bulan hijriah.

KH. Ahmad Faiz Basori, SE.Ak.MM., pengurus Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kemayoran Surabaya (Taman Pendidikan Ta’miriyah Surabaya)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar