Info Sekolah
Kamis, 16 Jul 2026
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
26 Juni 2026

Khutbah Jumat: Bersyukur

Jum, 26 Juni 2026 Dibaca 13x

إِنّ الْحَمْدَ لِله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اَللهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. اَمَّا بَعْدُ، فَيَا اِخْوَتِي عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُونَ. وقال تعالى: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Maka marilah kita jadikan diri kita ini menjadi orang yang selalu bersyukur kepada Allah SWT. Karena Rasulullah SAW pun selalu ingin menjadi hamba yang bersyukur, sebagaimana sabda beliau :

أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أكُونَ عَبْداً شَكُوْراً ؟

(Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur ?)

Bersyukur kepada Allah atas setiap kondisi dan keadaan kita, akan membawa kebahagiaan bagi diri kita, dan Allah SWT akan menambah selalu nikmat kepada siapapun yang selalu bersyukur. Sebagaimana firman Allah dalam Al Qur’an Surat Ibrahim: 7

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِنْ شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيْــــدَنَّكُمۡۖ وَلَئِنْ كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.”

Bukan hanya pada saat mendapatkan nikmat kemudian kita bersyukur, bahkan mungkin pada saat kita sakit, sebaiknya kita bersyukur… karena anggota tubuh kita yang sakit itu hanya satu bagian, sementara anggota tubuh yang lainnya masih sehat. Dan dalam penelitian modern, bahwa pasien yang selalu bersyukurlah yang kemungkinan sembuhnya lebih besar.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Ada kisah dalam Al Qur’an surat Al-Kahfi yang bisa kita jadikan tauladan, bahwa meskipun ada kondisi yang sepertinya tidak mengenakkan bagi kita, tetapi kita tetap selayaknya bersyukur.

Ketika Nabiyullah Khidzir a.s. bersama dengan Nabiyulloh Musa a.s. naik sebuah perahu, tiba-tiba perahu itu dilobangi oleh Nabiyulloh Khidzir. Al-Qur’an Surat Al-Kahfi: 71

فَٱنطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا رَكِبَا فِي ٱلسَّفِيْنَةِ خَرَقَهَاۖ قَالَ أَخَرَقۡتَهَا لِتُغۡرِقَ أَهۡلَهَا لَقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا إِمۡرًا

{Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar.}”

Meskipun perahunya rusak/lobang, yang seakan-akan merugikan pemilik perahu, namun ternyata rusaknya perahu tersebut merupakan berkah bagi pemilik perahu, karena perahunya tidak akan dirampas oleh raja yang dholim. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Al-Kahfi: 79

أَمَّا ٱلسَّفِيْنَةُ فَكَانَتۡ لِمَسَٰكِيْنَ يَعۡمَلُوْنَ فِي ٱلۡبَحۡرِ فَأَرَدتُّ أَنۡ أَعِيْبَهَا وَكَانَ وَرَآءَهُمْ مَّلِكٌ يَأۡخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصۡبًا

{Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut. Aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu (yang bagus)}.

Contoh lain adalah peristiwa terbunuhnya seorang anak, dalam Surat Al-Kahfi: 74

فَٱنْطَلَقَا حَتَّىٰٓ إِذَا لَقِيَا غُلَٰمًا فَقَتَلَهُۥ قَالَ أَقَتَلۡتَ نَفۡسًا زَكِيَّةً بِغَيۡرِ نَفۡسٍ لَّقَدۡ جِئۡتَ شَيۡـًٔا نُّكۡرًا

{Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, “Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang mungkar”}.

Ma’ayirol muslimin, ternyata dalam peristiwa yang menyedihkan bagi orang tua anak yang terbunuh tersebut ada hikmah besar yang membawa kebaikan bagi sang orangtua. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Nabiyulloh Khidzir a.s. dalam Surat Al-Kahfi: 80-81

وَأَمَّا ٱلۡغُلَٰمُ فَكَانَ أَبَوَاهُ مُؤۡمِنَيۡنِ فَخَشِيْنَآ أَنْ يُرۡهِقَهُمَا طُغۡيَٰنًا وَكُفۡرًا . فَأَرَدۡنَآ أَن يُبۡدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيۡرًا مِّنۡهُ زَكَوٰةً وَأَقۡرَبَ رُحۡمًا

{Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran (80). Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya). (81)}

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Dalam sebuah musibah pun boleh jadi ada nikmat besar yang disembunyikan Allah untuk diri kita. Ketika kendaraan kita rusak atau mogok, boleh jadi itu supaya kendaraan kita tidak dicuri oleh orang. Ketika anak kita wafat, boleh jadi itu cara Allah untuk menyelamatkan kita. Ketika dagangan kita tidak laku, atau gaji dan THR kita tidak cair, boleh jadi itu cara Allah mencegah kita berbuat maksiyat dengan harta tersebut.

Bukankah alasan-alasan seperti ini cukup menjadi dasar bagi kita untuk selalu bersyukur kepada Allah SWT dalam semua keadaan. Apalagi Allah SWT telah menjanjikan kepada kita

لَئِنْ شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيْــــدَنَّكُمۡ

{“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”}

Mudah-mudahan kita dan keluarga kita tergolong sebagai orang-orang yang pandai bersyukur.

وَقَلِيلٌ مِّنۡ عِبَادِيَ ٱلشَّكُورُ

{Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur}. (Surat Saba’: 13)

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ لِى وَلَكُمْ ، وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَشَايِخِي وَلِسَائِر المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيْمُ

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ . وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِاْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُوَفِّقِ الْعَامِلِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ الصَّادِقُ الْأَمِيْنُ ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اِتَّقُوْا اللَّهَ ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ ، وَأَيَّدَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيمًا: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ  يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ . وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِّيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ، والمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ ، وَأَلْفَ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ . اللَّهُمَّ وَفِّقْ وَلَاةَ أَمُوْرِنَا، إِلَى مَا فِيهِ عِزُّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِلَى مَا فِيهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، بِجَاهِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ ، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللَّهِ . إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ

Disampaikan oleh : KH. Ahmad Faiz Basori, SE.Ak.MM. – Pengurus Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kemayoran Surabaya (Taman Pendidikan Ta’miriyah Surabaya).

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar