
الْحَمْدُ للهِ ، الرَّاضِي عَنِ الصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِهِ، الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ مَرْضَاتِهِ، لَا يَخَافُوْنَ لَوْمَةَ لَائِمٍ فِي اتِّبَاعِ رِضْوَانِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ، ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ،
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ عَبْدٍ رَضِيَ بِهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَمُصْطَفَاهُ، المَبْعُوثُ لِلْعَالَمِينَ نُورًا وَهُدًى وَرَحْمَةً،
اللهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَشْرَفِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِينَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ،
أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا إِخْوَتِي عِبَادَ اللهِ ! أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ،
Sidang Jum’at yang berbahagia !
Sesungguhnya iman itu, dapatlah dikecap lezatnya dan dirasakan nikmatnya. Rasulullah s.a.w. telah bersabda:
ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا
“Dapatlah mengecap rasa iman itu, orang yang rela, bahwa Allah menjadi Tuhannya, Islam menjadi agamanya dan Nabi Muhammad menjadi Nabinya”.
Seperti halnya lidah dapat merasakan segar lezatnya buah anggur yang manis, demikian pulalah hati seorang mu’min dapat mengecap nikmatnya iman itu. Akan tetapi mungkin juga rasa anggur itu menjadi hambar atau malahan menjadi pahit, apabila lidah yang mengecapnya sedang dalam keadaan tidak sehat. Demikian jugalah rasa iman itu, akan menjadi hilang atau pahit, apabila hati yang mengecapnya tadi tengah dalam keadaan tidak sehat.
Hadits Nabi s.a.w. tadi, telah menunjukkan dengan jelas tanda-tanda hati yang sehat. Hati yang sehat, adalah hati yang ridho ber-Tuhankan Allah, ridho beragamakan Islam dan ridho bernabikan Nabi Muhammad s.a.w.
Ma’asyirol Muslimin
Ridho adalah puncak dari segala kepuasan jiwa. Seorang mu’min, barulah dikatakan ridho ber-Tuhankan Allah, apabila ia puas akan pengurusan dirinya oleh Allah, puas akan dipilihkan nasibnya oleh Allah, ridho akan pahitnya qodho’ atas dirinya oleh Allah, ridho akan pembagian rejeki dari Allah, tetap memelihara kewajiban terhadap Allah, menjauhi larangan-larangan Allah, sabar menerima bala cobaan dari Allah, mensyukuri akan segala nikmat Allah, senang akan menghadap ke hadirat Allah, ridho berwakil atau berserah diri kepada Allah, ridho bahwa penjamin atau pelindungnya adalah Allah, ikhlas dalam mengabdi kepada Allah, tidak takut dalam mengurusi segala kepentingan melainkan kepada Allah, tidak bersandar dalam mencari segala hajatnya melainkan kepada Allah s.w.t.
Orang yang bersikap demikian ini, itulah dia yang dikatakan ridho, bahwa Allah menjadi Tuhannya.
Ma’asyirol Muslimin
Seorang mu’min, barulah dikatakan ridho beragamakan Islam, apabila ia sungguh-sungguh mengagungkan kehormatan Islam, mengagungkan tanda syiar-syiar Islam, selalu bersungguh-sungguh menambah ilmu dan amal untuk memperkuat serta menambah istiqomah dan mendalamnya beragama Islam, sangat cinta kepada Islam, amat takut dirinya terlepas dari Islam, menghormati orang-orang Islam, tidak mencintai dan tidak membela orang yang mengkufuri Islam.
Seorang mu’min barulah ia dikatakan ridho bernabikan Nabi Muhammad s.a.w., apabila ia benar-benar mengikuti jejak langkah Nabi s.a.w., benar-benar menerima dan mengambil petunjuk Nabi s.a.w., benar-benar mengikuti syariat Nabi s.a.w., benar-benar berpegang teguh Sunnah Nabi s.a.w., benar-benar mengagungkan hak-hak Nabi s.a.w., senang berbanyak-banyak mengucapkan solawat dan salam kepada Nabi s.a.w., cinta kepada keluarga ahli bait dan para Sahabat Nabi s.a.w., suka membacakan doa “rodhiyalloohu ‘anhum” untuk mereka, berkasih sayang kepada umat Nabi s.a.w. dan bertujuan baik kepada mereka.
Orang yang bersikap demikian ini kepada Agama Islam, dan bersikap demikian itu kepada Nabi s.a.w., itulah dia orang yang benar-benar dikatakan rela beragamakan Islam dan rela bernabikan Nabi Muhammad s.a.w. Orang yang demikian inilah yang dapat merasakan lezatnya nikmat iman sebagaimana telah disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. tadi.
Ma’asyirol Muslimin
Tentulah berbahagia seorang mu’min yang dapat menikmati lezat imannya. Oleh karena itu, demikian pentingnya, bahwa setiap orang mu’min dapat menikmati lezat imannya, maka Rasulullah s.a.w. bersabda:
مَنْ قَالَ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ : رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالْإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُرْضِيَهُ
“Barangsiapa mengucapkan ketika pagi dan ketika senja tiga kali” Rhodiitu billaahi Robbaa, wa bil-Islaami diina, wa bi Muhammadin-nabiyyaa, “adalah sungguh bahwa Allah akan membuat ia menjadi ridho”.
Membaca kalimat tersebut setiap pagi dan senja adalah merupakan pernyataan ridho dari seorang hamba kepada Tuhannya, ridho Allah menjadi Tuhannya, ridho Islam menjadi agamanya dan ridho Nabi Muhammad menjadi Nabinya. Oleh karena itu pasti dibalasnya dengan penguatan dan pengukuhan sifat ridho itu pula di dalam hatinya, sehingga ia dapat menikmati lezat imannya. Sudah barang tentu yang dimaksud dengan membaca kalimat tersebut adalah membaca yang penuh dengan isi dan makna yang diresapi oleh hati yang ikhlas, sehingga kalimat tersebut bukan hanya sekedar menjadi bacaan, melainkan juga menjadi sikap hidup yang positif selama hayat di kandung badan.
Sikap hidup “Rodhiitu billaahi Robbaa, wa bil-Islaami diinaa, wa bi Muhammadin-Nabiyyaa” ini harus dimiliki oleh masyarakat Islam di segala jaman.
Ma’asyirol Muslimin
Contoh terbaik masyarakat yang bersikap hidup “Rodhiitu biillaahi Robbaa, wa bil-Islaami diinaa, wa bi Muhammadin-Nabiyyaa” ini, adalah masyarakat Islam di jaman sahabat Nabi s.a.w.. Baik kaum miskinnya, kaum hartawannya, orang-orang awamnya, orang-orang alimnya, rakyat jelatanya maupun tokoh-tokohnya, semuanya benar-benar dapat menyesuaikan diri dan melaksanakan kehidupan yang diliputi oleh isi kandungan kalimat “Rodhiitu billaahi Robbaa, wa bil-Islaami diinaa, wa bi Muhammadin-Nabiyyaa”.
Kita ambil saja suatu contoh, peristiwa seorang janda miskin yang mempunyai tiga orang anak kecil-kecil di jaman Khalifah Umar. Janda ini pernah hampir sehari semalam tidak menanak makanan karena kemiskinannya. Anak-anaknya menangis meratap-ratap kelaparan di malam hari. Khalifah Umar bin Al-Khottab r.a. pada malam hari itu sedang berkeliling seorang diri sebagaimana biasanya untuk mencari-cari berita tentang nasib rakyat yang boleh jadi ada yang terlupakan. Demi mengetahui peristiwa ini, beliau lari sekencang-kencangnya menuju Baitil-Mal untuk mengambilkan tepung makan sekuat kekuatan beliau memikul. Tepung ini beliau pikul di atas pundak beliau sendiri dan beliau berikan dengan tangan beliau sendiri kepada janda tersebut dengan permohonan maaf oleh beliau kepada janda itu supaya kelak beliau tidak dituntut di akhirat karena melupakan nasib rakyatnya yang terlantar. Demikianlah sikap hidup Khalifah Umar r.a., dan demikianlah sikap hidup janda yang miskin itu, yang tidak mau mencuri hak-hak orang lain meskipun dirinya dan anak-anaknya dalam keadaan darurat dan terlantar.
Contoh lain, pada jaman Khalifah Usman bin Affan. Beliau pribadi memiliki seribu ekor onta yang semuanya penuh dengan muatan bahan makanan pokok yang baru saja beliau datangkan dari Syria. Pada waktu itu negeri tengah ditimpa paceklik. Seluruh pedagang dalam negeri sama datang akan mengkulaknya semuanya dengan berani memberikan keuntungan 500% asal beliau suka menjualnya. Akan tetapi kata beliau: “Hanyalah Allah yang berani memberikan keuntungan minimal 1000%. Oleh karena itu lebih baik aku jual kepada Allah saja”, yakni beliau sedekahkan untuk menolong nasib rakyatnya.
Ma’asyirol Muslimin
Demikian dua diantara ribuan contoh yang dapat kita kemukakan, mengenai sikap hidup masyarakat jaman sahabat yang benar-benar menghayati isi kandungan kalimat “Radhiitu billaahi Robbaa, wa bil-Islaami diinaa, wa bi Muhammadin-Nabiyyaa”.
Semoga kita sekalian dianugerahi sikap hidup yang demikian itu dan dianugerahi hati yang selamat dan sehat, sehingga berbahagia menikmati lezatnya iman di dunia dan di akhirat.
جَعَلْنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الْآمِنِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ
أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ” إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوْا وَعَمِلُوا الصَّالِحَتِ أُولٓئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ . جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهٰرُ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ، ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ”
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمدُ لِلَّهِ مُوَفِّقِ الْعَامِلِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ ، فَيَـــا عِبَادَ اللَّهِ ، اِتَّقُوْا اللهَ! وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَأَيَّدَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا : إِنَّ اللَّهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ . وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِّيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والمُسلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أَمُوْرِنَا إِلَى مَا فِيهِ عِزُّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِلَى مَا فِيهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، بِجَاهِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ . إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ كُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Penulis : Almaghfurlah K.H.M. Basori Alwi (1927-2020): (Pendiri Pesantren Ilmu Al Quran Singosari Malang; Pengarang Metode Bil Qolam) – Beliau menjadi Penasehat Taman Pendidikan Ta’miriyah Surabaya sejak didirikan. Jabatan terakhir beliau adalah Ketua Pembina Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kemayoran Surabaya 2009-2020)
Tinggalkan Komentar