Info Sekolah
Kamis, 16 Jul 2026
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
10 Juli 2026

Khutbah Jumat: Birrul Walidain

Jum, 10 Juli 2026 Dibaca 4x

الحَمْدُ لِلَّهِ أَتَمَّ عَلَيْنَا النِّعَمَ رَاضِيًا لَنَا الإسْلامَ دِينًا . أَمَرَ أَنْ لَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ رَاجِيًا بِهَا حُسْنَ الْخِتَامِ قَوْلاً وَإِيْمَانًا . وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ طَالِباً بِشَفَاعَتِهِ يَوْمَ الزِّحَامِ نَجَاةً مِنَ النَّارِ وَأَمَانًا

وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ أَكْمَلِ النَّاسِ خَلْقًا وَخُلُقًا وَأَقْوَاهُمْ إِيمَانًا وَيَقِينًا . وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْبَاعِهِمْ خَيْرِ أُمَّةِ النَّبِيِّ عَهْدًا وَقَرْنًا . وَخَيْرِهِم بِالْوَالِدَيْنِ بِرًّا وَإِحْسَانًا.

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Sidang Jum’at yang berbahagia !

“BIRRUL WAALIDAIN” atau “berbakti kepada ibu-bapak” adalah termasuk amal soleh penyebab orang berbahagia dunia akhirat. Mewajibkan “birrul waalidain” ini, Allah s.w.t. berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا  (الإسراء ۲۳)

“Dan telah mewajibkan Tuhanmu, agar kalian tidak menyembah selain Dia (Allah), dan supaya berbuat baik kepada ibu-bapak”.

Berfirman pula pada ayat lain:

أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ  (لقمان ١٤)

“Bersyukurlah engkau kepada-Ku (Allah) dan kepada ibu-bapakmu!”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ !

Cobalah kita perhatikan! Pada ayat pertama perintah “beribadat kepada Allah” dan perintah “birrul waalidain”, diletakkan berdampingan serangkai di dalam satu ayat. Demikian juga pada ayat kedua, perintah “bersyukur kepada Allah” dan perintah “berterima kasih kepada ibu-bapak”, diletakkan berdampingan serangkai di dalam satu ayat. Seolah-olah Allah menerangkan: Tidak cukup seorang mukmin hanya bertauhid mengabdi kepada Allah tanpa berbakti kepada ibu-bapaknya. Tidak cukup ia bersyukur hanya kepada Allah tanpa berterima kasih kepada ibu-bapaknya.

Alangkah penting, alangkah tinggi nilai “birrul waalidain” sebagai amal saleh di antara yang lain-lain bagi pandangan Allah s.w.t. Di dalam kitab Shohihul Bukhoriy, dari Sahabat Abdullah, berkatalah ia :

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ؟ قَالَ : الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا ، قَالَ : ثُمَّ أَىٌّ ؟ قَالَ: ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ، قَالَ : ثُمَّ أَىٌّ ؟ قَالَ: ” الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

“Aku bertanya kepada Nabi s.a.w.: Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah AZW.? Nabi pun bersabda: Solat tepat pada waktunya. Sahabat Abdullah bertanya: Kemudian apa? Nabi pun menjawab: Kemudian Birrul Waalidain. Sahabat Abdullah pun bertanya pula : Kemudian apa? Berjuang menegakkan agama Allah”.

Sudah maklum, jihad menegakkan kalimah Allah adalah amal wajib, amal terpuji bagi Allah dan manusia. Pejuangnya disebut pahlawan dunia dan akhirat. Yang gugur di medan perang karenanya digelari Syuhada’, yang oleh Allah s.w.t. difirmankan :

وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ ( البقرة ١٥٤)

“Jangan kalian katakan terhadap orang-orang yang gugur dalam menegakkan agama Allah itu (bahwa mereka) mati. Bahkan mereka itulah orang-orang hidup. Tetapi kalian tidak menyadari”.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ !

Demikian terpuji dan tingginya tingkat jihad fii sabiilillah. Namun demikian masih di bawah tingkat BIRRUL WAALIDAIN, me-nurut Hadits di atas.

Mengapa demikian? Ya, sebelum berjuang, wujud manusia ini sebab pertamanya adalah ibu-bapaknya. Tanpa ibu-bapaknya Allah tidak menjelmakan dia ke dunia. Ini adalah sunatullah. Dia tak menjadi pejuang fii sabilillah tanpa pemeliharaan, tanpa asuhan dan tanpa pembinaan ibu-bapaknya sejak kecil hingga dewasa.

Cobalah manusia berfikir. Dia sembilan bulan dikandung ibunya. Ibunya payah. Ia dilahirkan. Ibunya sengsara menderita kesakitan yang mempertaruhkan nyawanya. Sejak bayi hingga dewasa, untuk minumnya, makannya, tidurnya, mandinya, kebersihannya, pendeknya segala yang diperlukan untuk hidupnya, tidak bisa tidak, telah melalui sekian banyak kesengsaraan, penderitaan dan pengorbanan ibu-bapaknya yang tiada terhingga. Untuk memperingatkan manusia, sebagian penderitaan tersebut disebut oleh Allah di dalam Al-Qur’an dalam rangka mewajibkan manusia berbakti kepada ibu-bapaknya.

Firman Allah :

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَىَّ الْمَصِيرُ (لقمان ١٤)

“Telah Aku wasiatkan kepada manusia, agar berbuat baik kepada ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah bertambah lemah, sedang lepas air susunya dalam masa dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku (Allah) dan kepada ibu-bapakmu. Kepada-Ku-lah tempat kebali”.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا (الأحقاف ١٥)

“Telah Aku perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada ibu-bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah-payah dan telah melahirkannya dengan susah-payah. Mengandungnya hingga melepas air susunya adalah tiga puluh bulan”.

Ya karena kesengsaraan, penderitaan dan pengorbanan yang demikian beratnya inilah kiranya, maka Allah memberi kehormatan kepada ibu-bapak di atas anaknya, mewajibkan BIRRUL WAALIDAIN sesudah mengabdi kepada Allah. Berbahagialah anak yang tahu balas-budi dan berbuat BIRRUL WALIDAIN.

Celakalah anak yang tak tahu balas-jasa dan berbuat ‘UQUUQUL WAALIDAIN atau menyakitkan hati ibu-bapaknya. Bagaimana tidak, sedang Nabi s.a.w. telah bersabda:

لَوْ عَلِمَ اللهُ مِنَ الْعُقُوقِ شَيْئًا أَرْدَأَ مِنْ أُفٍّ ، لَذَكَرَهُ ، فَلْيَعْمَلِ البَارُّ مَا شَاءَ أَنْ يَعْمَلَ فَلَنْ يَدْخُلَ النَّارَ، وَلِيَعْمَلِ العَاقُّ مَا شَاءَ أَنْ يَعْمَلَ فَلَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ

“Andaikata Allah tahu dari perbuatan ‘UQUUQ’ (menyakiti hati orang tua) itu sesuatu yang lebih buruk dari mengucapkan “Cis”, niscayalah disebutnya. Maka silahkan beramal orang yang berbakti kepada ibu-bapaknya apa saja yang ia suka perbuat, tidaklah ia akan masuk neraka. Dan silahkan orang yang menyakiti hati ibu-bapaknya beramal apa saja yang ia suka amalkan, tak akanlah ia masuk sorga”.

Riwayat Sahabat ‘Alqomah cukup membangkitkan bulu roma. Beliau seorang sahabat Nabi yang cukup baik dan penuh pengabdiannya kepada Allah. Ketika naza’ (sakratul maut) beliau alami kepayahan, tak dapat mengucapkan syahadat, tak dapat mengucapkan dzikir kepada Allah hanyalah karena ibunya belum suka memaafkan kesalahannya yang telah diperbuatnya terhadap ibunya. Demi setelah Rasulullah s.a.w. minta ijin hendak membakar Sahabat ‘Alqomah itu dalam keadaan naza’ kalau ibunya tak suka memaafkannya, lunak dan lunglailah hati ibunya sehingga sudi memaafkan puteranya itu. Barulah kemudian Sahabat Alqomah dapat mengucapkan syahadat dan dzikir kepada Allah, dan pulang ke rahmatullah dalam keadaan husnul khotimah.

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ !

Bagi Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya seorang anak dengan seluruh kekayaannya, tidaklah lebih dari pada sebagai sesuatu milik orang tuanya.

Kita ingat sebuah riwayat di dalam Hadits, yang ringkasnya; Seorang tua hatinya meratap, waktu dilaporkan oleh anaknya kepada Nabi s.a.w., karena telah mengambil uang anaknya. Atas perintah Allah melalui Jibril, di depan Nabi orang tua itu disuruh mengutarakan ratap hatinya. Dengan sajak yang mengharukan ia berkata:

غَذَوتُكَ مَوْلُودًا وَمُنْتُكَ يَافِعًا

تُعَلُّ بِمَا أَجْنِي عَلَيْكَ وَتُنْهَلُ

“Telah kuberi makan engkau kala engkau dilahirkan. Telah kuberi biaya engkau kala engkau remaja. Diminumi dan diminumi engkau dengan air yang kuhasilkan”.

إِذَا لَيْلَةٌ ضَافَتْكَ بِالسُّقْمِ لَمْ أَبِتْ

لِسُقْمِكَ إِلَّا سَاهِرًا أَتَمَلْمَلُ

“Dikala suatu malam engkau diserang oleh penyakit. Karena sakitmu semalam-malaman aku tak tidur dengan kelabakan”.

كَأَنِّي أَنَا الْمَطْرُوْقُ دُوْنَكَ بِالَّذِي

طُرِقْتَ بِهِ دُونِي فَعَيْنَىَّ تَهْمُلُ

“Seakan-akan aku sendiri yang diserang, bukan engkau, oleh penyakit yang engkau diserangnya, bukan aku. lantas mataku tergenang berlinang-linang”.

تَخَافُ الرَّدَى نَفْسِي عَلَيْكَ وَإِنَّهَا

لَتَعْلَمُ أَنَّ الْمَوَتَ وَقْتٌ مُوَجَّلُ

“Hatiku khawatir akan bencana menimpаmu, meski sesungguhnya, ia tahu bahwa mati itu punya waktu tertentu”.

فَلَمَّا بَلَغْتَ السِّنَّ وَالْغَايَةَ الَّتِي

إِلَيْهَا مَدَى مَا كُنتُ فِيكَ أُؤَمِّلُ

“Lantas setelah engkau sampai usia dan mencapai tujuan yang sekian lama sudah aku berharap untuk dirimu”.

جَعَلْتَ جَزَائِي غِلْظَةً وَفَظَاظَةً

كَأَنَّكَ أَنتَ الْمُنْعِمُ الْمُتَفَضِّلُ

“Engkau buat balasan untukku sikap kasar. Seakan-akan engkau sendiri pemberi nikmat, pemberi kemurahan”.

فَلَيْتَكَ إِذْ لَمْ تَرْعَ حَقَّ اُبُوَّتِي

فَعَلْتَ كَمَا الْجَارُ الْمُصَاقِبُ يَفْعَلُ

“Wahai… Semoga engkau (anakku…!) Kalau tak dapat menjaga hakku sebagai bapak. Berbuat sajalah bagaikan tetangga dekat selalu berbuat!”.

فَأَوْلَيْتَنِي حَقَّ الْجِوَارِ وَلَمْ تَكُنْ

عَلَيَّ بِمَالٍ دُونَ مَالِكَ تَبْخَلُ

“Lantas engkau berikan kepadaku hak-hak bertetangga. Dan tidak lagi kepadaku engkau kikir dengan harta (yang sebenarnya) bukan hartamu”.

Seketika itu juga Nabi s.a.w. memegang leher baju anak orang tua itu seraya bersabda

أَنْتَ وَمَالُكَ لِأَبِيكَ

“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu”.

Semoga kita dan anak turun kita dapat berbuat BIRRUL WAALIDAIN. Amin yaa Rabbal ‘aalamiin.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِينَ الْآمِنِينَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالآيَاتِ وَالذِّكرِ الْحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمدُ لِلَّهِ مُوَفِّقِ الْعَامِلِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ ، فَيَـــا عِبَادَ اللَّهِ ، اِتَّقُوْا اللهَ! وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَأَيَّدَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا : إِنَّ اللَّهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ . وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِّيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والمُسلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أَمُوْرِنَا إِلَى مَا فِيهِ عِزُّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِلَى مَا فِيهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، بِجَاهِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ . إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ كُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penulis : Almaghfurlah K.H.M. Basori Alwi (1927-2020): (Pendiri Pesantren Ilmu Al Quran Singosari Malang; Pengarang Metode Bil Qolam) – Penasehat Taman Pendidikan Ta’miriyah Surabaya sejak didirikan. Jabatan terakhir adalah Ketua Pembina Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kemayoran Surabaya 2009-2020)

Artikel Lainnya

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar