Info Sekolah
Minggu, 30 Agu 2026
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
  • Selamat Datang di Website Taman Pendidikan Ta`miriyah Surabaya
17 Juli 2026

Khutbah Jumat: Persahabatan

Jum, 17 Juli 2026 Dibaca 16x

الحَمدُ لِلَّهِ الَّذِي أَظَلَّ فِي ظِلِّهِ الْمُتَحَابِّيْنَ فِي اللهِ ، يَوْمَ لَا ظِلَّ اِلَّاظِلَّهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ القَائِلِ: “سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ” – فَذَكَرَهُمْ حَتَّى قَالَ – : “وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ، اجْتَمَعَا عَلَى ذَلِكَ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ.. الحديث،، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ وَالتَّابِعِينَ وَتَابِعِيهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ ، فَيَا اِخْوَتِي عِبَادَ اللهِ! أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ

Sidang Jum’at yang berbahagia !

Untuk melaksanakan ibadah dengan sempurna dalam rangka menegakkan agama Allah di muka bumi ini, sangatlah diperlukan adanya persahabatan di antara kaum Muslimin yang dijalin kuat-kuat oleh iman dan niat yang jujur karena Allah. Persahabatan kaum Muslimin yang demikian inilah, yang dahulu telah menghantarkan para sahabat di bawah pimpinan Nabi s.a.w. ke pintu keberhasilan, sehingga mampu menyelesaikan tugas dakwah agama yang amat berat, mampu dengan gigihnya mempertahankan Islam dari suatu kehancuran yang diusahakan oleh musuh-musuh mereka dengan seribu macam cara, bahkan mampu menyebar luaskan agama Allah ini ke seluruh pelosok dunia dalam waktu yang relatif singkat.

Persahabatan yang dijalin oleh niat yang jujur karena Allah ini, singkatnya “ASSHUHBAH FIL-LAH” (persahabatan karena Allah), adalah persabahatan antar kaum Muslimin yang sangat ideal.

Assayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddaad Rohmatulloh alaih – telah mengatakan :

وَأَصْلُ الصُّحْبَةِ صِدْقُ المَحَبَّةِ وَصَفَاءُ المَوَدَّةِ ، وَمَهْمَا كَانَ ذَلِكَ فِي اللهِ وَلِلَّهِ فَثَوَابُهُ عَظِيمٌ

Asal arti Assuhbah (persahabatan) itu adalah kejujuran cinta dan kemurnian kasih. Selagi cinta dan kasih ini karena Allah dan untuk Allah, maka pahalanya adalah sangat besar.

Nabi s.a.w. telah bersabda:

قَالَ اللهُ تَعَالَى : وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّيْنَ فِيَّ وَالْمُجَالِسِيْنَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ

Di dalam Hadits Qudsi, Allah Ta’ala telah berfirman: Cintaku pastilah Aku berikan kepada mereka yang saling mencintai karena Aku, mereka yang duduk bersama karena Aku, mereka yang saling menziarahi karena Aku, dan mereka yang saling memberi karena Aku.

Mereka yang demikian inilah, mereka yang kelak memperoleh lindungan dan naungan Allah.

Nabi s.a.w. telah bersabda:

” يَقُولُ اللهُ تَعَالَى يَوْمَ القِيَامَةِ : أَيْنَ المُتحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي، يَوْمَ لَا ظِلَّ اِلاَّ ظِليِّ

(Di dalam Hadits Qudsi) Allah Ta’ala berfirman, kelak pada hari kiamat: “Manakah mereka yang saling mencintai karena ke-Agungan-Ku? Pada hari ini Aku naungi mereka itu di bawah naungan-Ku, hari yang tiada naungan kecuali naungan-Ku.

Mereka yang demikian inilah, mereka yang di dunia dapat merasakan kenikmatan dan kelezatan imannya.

Nabi s.a.w. bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَجِدَ حَلَاوَةَ الإِيْمَانِ فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ

“Barang siapa ingin memperoleh lezat-manisnya iman, maka cintailah orang, jangan mencintainya selain karena Allah”.

Ma’asyrol muslimin.

Beberapa perbedaan dapat kita ketahui dan kita rasakan, antara cinta dan senang kepada orang karena Allah, dan cinta serta senang kepada orang tidak karena Allah.

Kata Assayyid Abdullah bin Alwi Al-Haddad rahimahullah, antara lain:

فَإِذَا أَحَبَّ اْلإِنسَانُ الْإِنْسَانَ وَأَلِفَهُ وَصَاحَبَهُ، لِأَنَّهُ يُحِبُّ اللهَ وَيَعْمَلُ بِطَاعَتِهِ كانَ ذلِكَ مِنَ الْمَحَبَّةِ فِي اللهِ تَعَالَى

Apabila orang mencintai seseorang, rukun-intim kepadanya dan suka mempersahabatnya, dikarenakan yang dicintai itu senang kepada Allah dan melakukan ketaatan kepada Allah, maka cinta yang demikian itu adalah termasuk cinta karena Allah.

وَإِذَا أَحَبَّهُ وَصَحِبَهُ لِأَنَّهُ يُعِيْنُهُ عَلَى دِيْنِهِ وَيُسَاعِدُهُ عَلَى طَاعَةِ رَبِّهِ فَقَدْ أَحَبَّهُ فِي اللهِ

Apabila ia mencintai dan mempersahabatnya, karena dia menolongnya untuk agamanya, dan membantunya untuk taat kepada Tuhannya, maka sungguh ia telah mencintainya karena Allah.

وَإِذَا أَحَبَّهُ وَصَحِبَهُ لِأَنَّهُ يُعِيْنُهُ عَلَى دُنْيَاهُ الَّتِي يَسْتَعِيْنُ بِهَا عَلَى أُخْرَاهُ فَقَدْ أَحَبَّهُ فِي اللهِ تَعَالَى

Jika ia mencintai dan mempersahabatnya, karena ia menolongnya untuk kepentingan dunianya, dunia yang dibuatnya menunjang akhiratnya, maka sungguh ia telah mencintainya karena Allah.

وَإِذَا أَحَبَّهُ وَصَحِبَهُ لِأَنَّهُ وَجَدَ طَبْعَهُ يَمِيلُ إِلَيْهِ وَنَفْسَهُ تَأَنَّسَ بِهِ، أَوْ لِأَنَّهُ يُعِيْنُهُ عَلَى دُنْيَاهُ وَأَسْبَابِ مَعَاشِهِ الَّتِي يَتَمَتَّعُ بِهَا، فَتِلْكَ مَحَيَّةٌ طَبِيعِيَّةٌ لَيْسَتْ مِنَ الْمَحَبَّةِ فِي اللهِ فِي شَيْءٍ، وَتِلْكَ صُحْبَةٌ نَفْسَانِيَّةٌ اِقْتَضَاهَا مَيْلُ الطَّبْعِ ، وَلَكِنَّهَا مُبَاحَةً ، وَلَعَلَّهَا لَا تَخْلُو مِنْ خَيْرٍ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ

Jika ia mencintai dan mempersahabatnya, karena ia rasakan tabiatnya cenderung kepadanya dan jiwanya merasa enak bersama dia; atau karena yang dicintai itu menolongnya untuk kepentingan dunianya dan untuk sebab-sebab kehidupannya yang ia nikmati, maka cinta yang demikian itu adalah cinta alami yang tidak termasuk cinta karena Allah sedikitpun. Dan persahabatan demikian adalah persahabatan yang sejiwa yang dibawa oleh pembawaan tabiat. Akan tetapi ia mubah/boleh. Boleh jadi persahabatan yang demikian itu tidak sunyi dari kebaikan, isyaallah.

أَمَّا إِذَا أَحَبَّهُ وَصَحِبَهُ لِأَنَّهُ يُعِيْنُهُ عَلَى الْمَعْصِيَةِ وَالظُّلْمِ، وَيُسَاعِدُهُ عَلَى أَسْبَابِ الفِسْقِ وَالمُنْكَرِ، فَتِلْكَ صُحْبَةٌ مَذْمُوْمَةٌ قَبِيْحَةٌ، وَهِيَ فِي سَبِيْلِ الشَّيْطَانِ، وَلَيْسَتْ مِنَ اللهِ فِي شَيْئٍ وَهِيَ الَّتِي تَنْقَلِبُ فِي اْلآخِرَةِ عَدَاوَةً، وَرُبَّمَا انْقَلَبَتْ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ الْآخِرَةِ

Adapun, apabila ia mencintai dan mempersahabatnya, karena ia menolongnya untuk maksiat dan berbuat dholim serta membantunya untuk fasiq dan melakukan kemungkaran, maka yang demikian itu adalah cinta dan persahabatan yang dicela oleh agama lagi buruk. Ia adalah cinta dan persahabatan di jalan syaithon, dan tidak dianggap sedikit pun oleh Allah. Persahabatan yang demikian akan berubah di akhirat menjadi permusuhan. Terkadang di dunia, sebelum di akhirat pun telah berubah menjadi permusuhan pula. Dalam hal ini Allah s.w.t. telah berfirman:

اَلْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِيْنَ

“Para kekasih (para sahabat) itu pada hari kiamat nanti, sebagian mereka kepada yang lain menjadi musuh, kecuali para sahabat/kekasih yang bertaqwa kepada Allah”.

Ma’syirol Muslimin

Memperhatikan beberapa firman Allah dan beberapa sabda Rasulullah s.a.w. mengenai bagaimana seharusnya orang bersahabat tadi, maka perlulah kita berhati-hati di dalam menempatkan diri kita di tengah-tengah pergaulan persahabatan, apakah kita berada di dalam persahabatan yang mubah/boleh, atau kita berada di dalam persahabatan yang dipuji atau dicela oleh agama.

Nabi s.a.w. bersabda:

اَلْمَرْءُ مَعَ جَلِيْسِهِ ، وَالمَرْءُ عَلَى دِيْنِ خَلِيْلِهِ ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ

Orang itu akan bersama teman duduknya (dalam segala hal). Dan orang itu selalu mengikuti agama kekasihnya. Maka hendaklah seseorang dari kalian melihat siapa yang diajak saling mengasihi (atau diajak persahabatan itu).

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْفَائِزِيْنَ الآمِنِيْنَ، وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِي عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، يٓا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصَّادِقِيْنَ، بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ العَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Khutbah Kedua

اَلْحَمدُ لِلَّهِ مُوَفِّقِ الْعَامِلِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ ، فَيَـــا عِبَادَ اللَّهِ ، اِتَّقُوْا اللهَ! وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَأَيَّدَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا : إِنَّ اللَّهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ . وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِّيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والمُسلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أَمُوْرِنَا إِلَى مَا فِيهِ عِزُّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِلَى مَا فِيهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، بِجَاهِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ . إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ كُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penulis : Almaghfurlah K.H.M. Basori Alwi (1927-2020): (Pendiri Pesantren Ilmu Al Quran Singosari Malang; Pengarang Metode Bil Qolam) – Beliau menjadi Penasehat Taman Pendidikan Ta’miriyah Surabaya sejak didirikan. Jabatan terakhir beliau adalah Ketua Pembina Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kemayoran Surabaya 2009-2020)

Artikel ini memiliki

0 Komentar

Tinggalkan Komentar