
إِنّ الْحَمْدَ لِله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه، اَللهُمّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سيّدنا مُحَمّدٍ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن. اَمَّا بَعْدُ، فَيَا اِخْوَتِي عِبَادَ اللهِ، أُوصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ اْلمُتَّقُونَ. وقال تعالى: يَاأَيّهَا الّذَيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Ma’asyiral Muslimin
Tanggal 10 Muharom (Hari Asyura’) adalah hari besar umat Islam, karena pada hari Asyura’ tersebut Allah SWT memberikan anugerahNya kepada para Nabi dan Rasul sejak zaman Nabi Adam.
Dalam kitab I’aanatut Tholibiin (syarah kitab Fathul Mu’in) disebutkan : di antara peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’ adalah
1. Dikeluarkannya Nabi Nuh dan kaumnya dari perahu.
2. Nabi Ibrohim selamat dari api raja Namrud.
3. Laut merah dibelah oleh tongkat Nabi Musa dan bani Israil selamat dari Fir’aun.
4. Nabi Yusuf keluar dari penjara.
5. Diampuninya dosa Nabi Daud a.s..
6. dan lain-lain.
Pada khutbah hari ini kami akan mengangkat peristiwa Nabi Daud a.s.
Nabi Daud a.s. yang merupakan raja bani Israil, suatu hari mengumumkan dan memerintahkan para pemuda bani Israil untuk jihad fi sabilillah. Diantara mereka yang ikut berperang ada seorang pemuda bernama Ibnu Hannan yang mempunya istri yang cantik bernama Sabiq binti Sya’ik.
Peperangan yang dialami Ibnu Hannan terjadi bertahun-tahun, tak kunjung berhenti, bahkan semakin sengit. Bahkan sang istri dan keluarganya mengira jika suaminya sudah meninggal di medan perang.
Takdir Allah menentukan, suatu hari mata Nabi Daud a.s. tertuju pada wajah Sabiq binti Sya’ik (istri ibnu Hannan). Sehingga Nabi Daud a.s. segera mengajukan lamaran kepada keluarga Sabiq. Sebelumnya, Nabi Daud a.s. telah mempunyai 99 orang istri.
Ma’asyiral muslimin.
Sebagai seorang raja besar dan Nabi yang mulia, istana Nabi Daud a.s. selalu dijaga oleh penjaga dan tentara. Tidak ada seorang pun boleh masuk sebelum mendapat izin dari penjaga. Akan tetapi, pada suatu hari ada kejadian yang sangat luar biasa. Ada 2 orang yang tiba-tiba bisa memasuki mihrab Nabi Daud a.s.. Sebagaimana dalam QS. Shod 21-25 .
وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُا۟ ٱلۡخَصۡمِ إِذۡ تَسَوَّرُوا۟ ٱلۡمِحۡرَابَ (21) إِذۡ دَخَلُوا۟ عَلَىٰ دَاوُۥدَ فَفَزِعَ مِنۡهُمۡۖ قَالُوا۟ لَا تَخَفۡۖ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضࣲ فَٱحۡكُم بَیۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَاۤ إِلَىٰ سَوَاۤءِ ٱلصِّرَ ٰطِ (22
“Dan apakah sampai kepadamu berita tentang orang-orang yang berperkara, ketika merek memanjat pagar. Ketika mereka masuk (menemui) Daud, lalu beliau terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata : Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah 2 orang yang berperkara. Salah satu dari kami berbuat dholim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil. Dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus”.
Ma’asyiral muslimin.
Sebagian ahli tafsir berpendapat, 2 laki-laki yang masuk ke mihrob Nabi Daud a.s. tersebut adalah Malaikat-Malaikat yang diutus. Allah untuk memberi peringatan dan pengajaran kepada Nabi Daud a.s..
Meskipun hari itu bukan waktunya hari berperkara, akan tetapi Nabi Daud a.s. tidak dapat menolak perkara yang sudah ada di hadapannya itu. Salah satu dari orang yang berperkara itu berkata :
إِنَّ هَـٰذَاۤ أَخِی لَهُۥ تِسۡعࣱ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةࣰ وَلِیَ نَعۡجَةࣱ وَحِدَةࣱ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِیهَا وَعَزَّنِی فِی ٱلۡخِطَابِ
“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai 99 ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: Serahkan kambingmu itu kepadaku! dan dia mengalahkanku dalam perdebatan” (QS Shod 23).
Mendengar itu merah padam wajah Nabi Daud a.s. karena marah. Bagaimana mungkin orang yang sudah memiliki 99 ekor kambing betina masih mau mengambil 1 ekor kambing betina milik orang lain, hanya agar genap menjadi 100 ekor. Maka Nabi Daud a.s. berkata sebagaimana dalam QS Shod 24 :
قَالَ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ وَإِنَّ كَثِیرࣰا مِّنَ ٱلۡخُلَطَاۤءِ لَیَبۡغِی بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَقَلِیلࣱ مَّا هُمۡۗ وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّـٰهُ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّ رَاكِعࣰا وَأَنَابَ
“Daud berkata: Sesungguhnya dia telah berbuat dholim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat dholim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang sholeh, Dan amat sedikitlah orang-orang seperti mereka ini”.
Baru saja Nabi Daud a.s. berkata demikian, maka Malaikat berkata : Bagaimana engkau Daud, sudah mempunyai 99 orang istri, lantas akan melamar istri Ibnu Hannan ? Padahal Ibnu Hannan hanya mempunyai seorang istri saja. Mendengar kata-kata yang terang dan tepat itu, maka Nabi Daud a.s. menundukkan kepala, gemetar badannya.
وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّـٰهُ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّ رَاكِعࣰا وَأَنَابَ
“Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya, maka dia minta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat”. (QS. Shod 24)
Mujahid meriwayatkan: Nabi Daud a.s. menangis sambil sujud selama 40 hari, sehingga rumput tumbuh di bawah kepalanya dan menutupi kepalanya. Tiba-tiba ada suara yang berseru: Hai Daud, apakah kamu lapar? maka akan diberi makan. Apakah kamu haus? maka akan diberi minum. Ataukah kamu telanjang? maka akan diberi pakaian. Maka Nabi Daud a.s. merintih, dan karena sangat panas hawa dadanya, maka terbakar rumput yang tegak di depannya. Kemudian Allah berkenan menerima taubatnya. Maka Daud minta kepada Tuhan supaya dosanya bertanda di tapak tangannya. Sehingga tiap makan dan minum kelihatan bekas dosa itu dan menyebabkan dia menangis.
Bahkan adakalanya Nabi Daud a.s. diberi minum 2/3 gelas, maka jika dia melihat dosanya ditangannya, lalu menangis, sehingga air matanya dapat memenuhi isi gelas itu (Kitab Irsyadul Ibad ila Sabilir Rosyad).
Ma’asyiral muslimin.
Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah suri tauladan dari Nabi Daud a.s. dalam bertaubat kepada Allah. Bagaimana sikap seorang muslim yang taat ketika mengetahui dirinya telah bersalah. Itulah yang dikatakan Ibnu Mas’ud r.a.:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَأَنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هٰكَذَا ( أَيْ ذَبَّهُ بِيَدِهِ فَطَارَ ( رواه البخاري )
“Seorang mukmin melihat dosa-dosanya bagaikan seorang yang duduk di bawah gunung dan takut kejatuhan gunung tersebut. Dan seorang fajir (pendosa) memandang dosanya bagaikan lalat yang hinggap di hidungnya lalu dihalau dengan tangannya, maka terbang lalatnya”.
Marilah kita mencontoh Nabi Daud a.s., Bukankah Nabi Muhammad SAW bersabda:
إِذَا اقْشَعَّرَ جِلْدُ الْعَبْدِ مِنْ خَشْيَهِ اللهِ تَحَاتَّتْ عَنْهُ ذُنُوبُهُ كَمَا يَتَحَاتُّ عَنِ الشَّجَرَةِ الْيَابِسَةِ وَرَقُهَا
“Jika berdiri bulu kuduk seorang hamba karena takut kepada Allah, maka akan berguguran darinya dosa-dosanya, seperti gugurnya daun dari pohon yang kering”. (HR. Baihaqi).
Ma’asyiral muslimin
Itulah salah satu peristiwa yang terjadi pada hari Asyura’, yakni diampuninya dosa Nabi Daud a.s. oleh Allah SWT.
Dalam doa hari Asyura’, ketika kita minta ampun kepada Allah, kita berdoa:
اللهُمَّ يَا غَافِرَ ذَنْبِ دَاوُدَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ
“Ya Allah, Tuhan yang mengampuni dosa Nabi Daud pada hari Asyura’”.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَاَسْتَغْفِرُ الله العَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَشَايِخِي وَلِسَائِرِ المُسْلِمِينَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُورُ الرَّحِيمُ. بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَـٰنِ ٱلرَّحِیمِ . وَٱلۡعَصۡرِ . إِنَّ ٱلۡإِنسَـٰنَ لَفِی خُسۡرٍ . إِلَّا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡا۟ بِٱلصَّبۡرِ. بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِالْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
Khutbah Kedua
اَلْحَمدُ لِلَّهِ مُوَفِّقِ الْعَامِلِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَلِيُّ الْمُتَّقِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ الصَّادِقُ الْأَمِينُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ ، فَيَـــا عِبَادَ اللَّهِ ، اِتَّقُوْا اللهَ! وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ قُدْسِهِ، وَأَيَّدَ بِالْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ عِبَادِهِ، فَقَالَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلًا عَلِيْمًا : إِنَّ اللَّهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ . وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيْدٌ. وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ سَادَاتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِّيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ أَجْمَعِيْنَ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْهِمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ والمُسلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ ، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ. اَللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أَمُوْرِنَا إِلَى مَا فِيهِ عِزُّ الْإِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِينَ ، وَإِلَى مَا فِيهِ خَيْرُ الْبِلَادِ وَالْعِبَادِ، بِجَاهِ سَيِّدِ الْمُرْسَلِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً ، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. عِبَادَ اللَّهِ . إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ . فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرُكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْ كُمْ ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Disampaikan oleh: KH. Ahmad Faiz Basori, SE.Ak.MM. – Pengurus Yayasan Ta’mirul Masjid Agung Kemayoran Surabaya
Tinggalkan Komentar